Thursday, November 17, 2005

“Menulis adalah nikmat termahal yang diberikan oleh Allah,
ia juga sebagai perantara untuk memahami sesuatu.
Tanpanya, agama tidak akan berdiri,
kehidupan menjadi tidak terarah...”
(Dari perkataan Qatâdah, Tafsîr al-Qurthûbî, 2002)

teman,maafkan aku
baru tulisan yang aku bisa
tapi aku bukan penyair
bukan pula cerpenis
tidak juga pekerja seni

aku hanyalah pemuda
menuangkan isi hati
dan cita-cita
dengan kata-kata

Syair Sang Bulan

Aku kagumi sebuah bulan
kulihat sambil melamun
sejenak
mengistirahatkan hati

Sinar bulan itu
indah, menyejukkan jiwa
merasuki relung-relung batin
aku terpana

Sejak dulu
sinarnya slalu mengisi malamku
tapi kali ini
kagum benar aku

Banyak mata memandang kagum
ikut menikmati sinarnya
tapi tak apa
toh tiada pemiliknya

Ingin lama mata ini memandang
sayang...
hidupku tak hanya 'tuk melihat bulan
kuharap
sinarnya menyambutku suatu hari

Sunday, November 13, 2005

Aku Kembali

Udara dingin menyergap saat kuturun dari bis Kramat Djati. Kulangkahkan kaki di Jalan Pahlawan,menunggu angkot lewat. Hmm...terbayang rutinitas kembali mengisi hari-hariku. Tugas, kuliah, rapat-rapat di koridor Masjid Salman, dan masih banyak lagi. Memang menjemukan, tapi terkadang menggairahkan. Banyak hal harus kulakukan, untuk masa depan. Bandung, aku kembali!!!

Aku Kembali

Udara dingin menyergap saat kuturun dari bis Kramat Djati. Kulangkahkan kaki di Jalan Pahlawan,menunggu angkot lewat. Hmm...terbayang rutinitas kembali mengisi hari-hariku. Tugas, kuliah, rapat-rapat di koridor Masjid Salman, dan masih banyak lagi. Memang menjemukan, tapi terkadang menggairahkan. Banyak hal harus kulakukan, untuk masa depan. Bandung, aku kembali!!!

Thanks My Bro

Sebelum balik ke Bandung, saya menerima sebuah SMS dari seorang sahabat, "Inget bro, Allah ghayyatuna (Allah tujuan kami)". Sebuah petikan dari nasyid terkenal. Sungguh indah. Terima kasih sahabatku, kau telah mengingatkanku.

Berbicara Mengenai Cinta

Mengatakan cinta merupakan ekspresi terindah dari manusia. Mengatakan kepada siapa saja yang kita cintai. Seperti meletakkan beban berat yang dipanggul sangat lama. Ah..lega rasanya. Gumpalan magma itu keluar begitu saja, menjadi lahar. Mengalir, menghantam penahan di depannya. Rasa malu, gengsi, kehormatan, dan idealisme. Sial, dasar manusia.

Bagi saya sendiri, sangatlah sulit mengekspresikan rasa cinta kepada seseorang. Banyak orang-orang di sekitar saya tidak mengetahui betapa saya mencintai mereka. Orang tua, saudara, sahabat2 kala sekolah,Sahabat2 satu kajian mingguan, teman2 di organisasi, adik2 mentor, "Bos", eks-"Bos", dan tentu saja seorang wanita yang saya kagumi (satu aja cukup, kalo empat takut kagak adil..:-D)

Hakikat cinta adalah saling merasakan. Jika orang yang kita cintai sakit, kita akan merasa sakit juga. Seperti satu tubuh. Cinta berkaitan juga dengan pengorbanan. Mengorbankan kebebasan saat lajang, mengorbankan waktu luang, bahkan mengorbankan jiwa raga. Jadi kalo ada laki-laki sering bilang cinta saat pacaran, tapi jika ditantang untuk menikah tidak berani, perlu kita bertanya cintakah dia atau hanya sekedar nafsu belaka?. Sehingga seorang suami yang mencari nafkah demi keluarganya sangat dihargai tetesan keringatnya oleh Sang Ilahi Rabbi karena itulah perwujudan cinta sejati, pengorbanan sejati.

Cinta bisa dibagi menjadi lima tingkatan sesuai kualitas penyebabnya:
Pertama, cinta kepada lawan jenis. Cinta jenis ini berada pada level terendah. Sebab, cinta ini sebenarnya merupakan tabiat alamiah dari manusia. Seperti insting seekor hewan. Jadi, seorang manusia yang normal akan selalu memiliki tabiat itu, siapapun dia. Seorang ulama besar sekelas Ibnu Hazm pun pernah merasakan cinta ini ketika muda. Namun hati-hati dengan cinta jenis ini. Terkadang manusia tidak menyadari bahwa yang ia rasakan bukanlah cinta, tapi hawa nafsu atau syahwat.Hanya berawal dari pandangan fisik belaka lalu turun ke hati. Kemudian menjustifikasi bahwa orang yang didepannya adalah jodoh dari Sang Maha Kuasa. Arghh...penyakit anak muda:-D.
Kedua, cinta terhadap keluarga, termasuk kepada anak, istri, dan orang tua. Cinta ini dikarenakan seorang manusia merasa memiliki ikatan khusus terhadap keluarganya. Bisa karena ikatan perkawinan atau ikatan darah.Sehingga wajar tumbuh rasa cinta, saling merasakan, dan kemauan berkorban. Seorang ibu tak akan tahan melihat anaknya mengeluh kesakitan. Hatinya seakan merasakan kesakitan si anak. Cinta ini tidak melihat jenis kelamin. Jadi, berada satu tingkat diatas cinta kepada lawan jenis.
Ketiga, cinta kepada sahabat. Sahabat lebih dari sekedar teman biasa. Lebih dekat dan kuat ikatannya. Bisa terjadi pada sesama jenis atau lain jenis. Tidak seperti cinta kepada lawan jenis, lebih tulus, dan rendah rasa ingin memiliki satu sama lain. Tidak ada ikatan alamiah, seperti hubungan darah, namun tiba-tiba terjalin chemistry erat antara manusia yang bersahabat. Contoh masyhur adalah persahabatan Jalaludin Rumi dengan Syamsudin Tabriz. Rumi bahkan menganggap sahabatnya adalah matahari dan mursyidnya. Sehingga terciptalah kumpulan sajak Diwan i-Syams. Konon Syamsudin Tabriz pernah menghilang cukup lama karena melihat kecemburuan murid2 Rumi kepadanya, dan baru bertemu Rumi kembali saat Rumi sedang sakit keras. Syamsudin pun tidak tahan melihat Rumi berada dalam penderitaan sakitnya. Hmm...cukup indah.
Keempat, cinta karena ikatan akidah atau ideologi. Cinta terhadap saudara seagama. Tidak saling mengenal dan tidak pernah bertemu, namun dapat tumbuh perasaan saling merasakan dan pengorbanan. Seperti ikatan orang-orang muhajirin dan anshar pada masa hijrahnya Rasulullah SAW. Cinta ini bisa menimbulkan soladaritas global yang sangat dahsyat. Akan tetapi sayang, sering hilang karena fanatik buta terhadap suatu jamaah atau paham. Kisah tiga prajurit sekarat yang kehausan pada perang Yarmuk patut dijadikan contoh mulia. Satu sama lain saling mendahulukan hingga akhirnya mereka meninggal dalam keadaan kehausan.
Kelima, cinta paling tinggi, yaitu cinta kepada Allah dan rasulNya. Tidak pernah kita melihat wujudNya maupun wajah Sang Rasul Mulia. Namun, tetap tumbuh rasa cinta dalam hati, sebuah hal yang luar biasa. Padahal manusia hanya mengenalNya melalui ciptaanNya dan sifat-sifat yang tersebut dalam kitab suci. Rasulullah SAW, hanya kita ketahui lewat kisah dan kumpulan sunahnya. Cinta ini tidak mungkin dicampuri hawa nafsu. Karena nafsulah penghalang utama tumbuhnya cinta kepada Allah dan rasulNya. Cinta kepada Allah menimbulkan perasaan harap dan takut. Rasa harap akan kasih sayangNya dan takut akan siksaNya. Sedangkan rasa cinta kepada Rasulullah menimbulkan keinginan untuk mengikuti sunnahnya dan bersama dengannya di hari akhir nanti. Semoga kita semua dapat bersama Rasul mulia dan mendapat syafa'atNya di hari akhir nanti..Amiin ya Rabbal'alamin.

Cinta memang indah. Akan tetapi cinta yang berlebihan memiliki daya hancur pula. Seorang yang berlebihan beribadah dan berdakwah sehingga lupa untuk menikah atau lupa akan hak-hak keluarganya tidaklah sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW (maaf buat pak Syamsu dan Sayyid Quthb..;-D) karena Rasul juga menikah dan memenuhi hak-hak istri-istrinya. Lebih buruk lagi,berlebihan mencintai seorang wanita hingga lupa kepadaNya, apatis terhadap lingkungan, terpisah dari teman-temannya, dan terjerumus kedalam zina.

Cinta itu ibarat samudra, sangat nikmat jika kita berenang dan menyelam di dalamnya. Namun, sangat celaka jika tenggelam dalam samudra cinta. Maka, janganlah bermain-main dengan cinta. Banyak pemuda mengenal cinta tapi kemudian menjadi zina. Banyak pencari cinta Sang Ilahi hanya menjadi pelaku bid'ah sejati. Sayang..sayang sekali sebuah keindahan berubah menjadi kehinaan. Mengekspresikan cinta juga membutuhkan pengetahuan, butuh ilmu. Seperti kata Imam Syafi'i, Ilmu sebelum amal. Begitu juga cinta,ada ilmunya, ada rambu-rambunya.

Berbicara tentang cinta tentu tak akan ada habisnya. Ribuan lagu, Jutaan puisi, ratusan kisah dan film telah lahir karena cinta. Bahkan, konon ada sebuah kitab klasik yang dikarang seorang ulama tentang kisah-kisah para pencinta. Tapi, selalu ada akhir dalam sebuah tulisan. Terima kasih Ya Rabbi telah menumbuhkan cinta dalam hati-hati kami. Penyejuk kala hati kami kering. Pelunak jiwa...menambah indahnya hidup yang singkat ini. Ah..cinta, kapan aku merayakannya ?...:-)

Monday, September 05, 2005

Tentang Kematian
Selepas Maghrib, 5 Sept '05
Saya melihat berita kecelakaan pesawat Mandala Airlines di Medan di televisi. Siapa sangka pesawat yang baru beberapa menit meninggalkan landasan tiba-tiba jatuh di pemukiman padat. Siapa sangka gubernur Sumut dan anak bungsunya ikut tewas. Siapa ....
Kematian memang datang tanpa pernah kita undang. Entah secara tiba-tiba atau perlahan. Secara halus ataupun kasar. Tapi kematian adalah suatu keniscayaan.
Sang Rasul mulia berkata orang yang cerdas adalah orang yang selalu mengingat kematian. Karena kematian pasti datang. Kita hanya bisa bersiap dan selalu bersiap. Hingga sang malaikat maut datang, hanya ada dua pilihan, akhir yang baik (khusnul khotimah) atau akhir yang buruk (su'ul khotimah).
Tiada pilihan kecuali menjadi manusia dengan visi kematian. Agar saat hisab menjelang, tiada rasa sesal. Sebab hidup di dunia ini adalah kefanaan.........

Friday, August 26, 2005

Konsisten

Kemaren, saya ngobrol-ngobrol sama temen2 yang kebetulan satu SMA. Obrolan ringan itu nyangkut ke cerita2 kehidupan mahasiswa para pengurus unit kerohanian waktu kita SMA. Ternyata kehidupan mereka terkadang sangat bertolak belakang dengan "seruan-seruan" mereka dahulu. Ada penggedenya yang masuk ke jurusan Kehutanan UGM, eh, malah bener2 jadi orang hutan. Ada yang dulu menjaga pergaulan, sekarang malah berbuat kebalikannya. Sebenarnya cerita-cerita kayak begitu sudah sering mampir ke telinga saya. Namun, sekarang terasa menarik karena saya sudah menjadi mantan pengurus unit kerohanian di kampus. Sebuah posisi yang hampir sama dengan orang-orang yang menjadi pembicaraan kami.

Jadi terpikir, ternyata menjaga konsistensi antara "seruan" melalui kata-kata dan perbuatan sangatlah berat. Kata-kata indah dan ideal mengenai kebenaran seakan menjadi hampa jika bercermin ke dalam perbuatan yang terlihat. Teringat juga tentang berita kemurkaanNya di Al-Qur'an jika perkataan kita tidak sejalan dengan perbuatan. Konsekuensi pedih sebuah ketidakkonsistenan.

Konsistensi memang menjadi keharusan, terutama kepada "penyeru-penyeru" suara kebenaran. Orang-orang yang secara tidak langsung menjadi contoh bagaimana kebenaran dijalankan. Menjadi Uswatun hasanah (teladan yang baik) bagi orang-orang di sekitarnya. Sayang, jika ketidakkonsistenan hanya menjadikan jengah akan seruan kebenaran. Seakan kata-kata manis dari mulut sang penyeru merupakan topeng kemunafikan dirinya.

Katakanlah, aku beriman kepada Allah dan beristiqomahlah (konsisten) kamu. Itulah pesan Sang Rasulullah mulia kepada umatnya ketika menjelaskan tentang Islam pada seorang sahabat. Pesan tambahan setelah suruhan untuk beriman, karena beriman tak semudah berjalan lurus dari gerbang depan hingga ke gerbang belakang ITB.

Wednesday, August 24, 2005

On BEing Modern

Menentang perubahan zaman emang ngga mungkin. Tapi selalu terpikir, bagaimana berenang dengan selamat di aliran zaman ini ? bagaimana menjadi modern tanpa menjadi ikut2an?

Sering saya melihat dan mendengar, banyak orang ingin menjadi modern tapi hanya dalam tampilan fisik belaka, tanpa ada perubahan cara berpikir. Pakaian boleh kayak artis tapi pikiran masih konservatif alias kolot. Mal-mal dibuat dengan megah di kota-kota kecil, tapi sekolah2 tak terurus dan miskin fasilitas. Jadi, yang ada hanya gejala ikut2an. Ngikut gaya artis di acara entertainment. Ikut-ikut membangun pusat perbelanjaan mirip dengan kota besar.

Mengartikan modern tentu tidaklah sepicik itu. Menjadi modern adalah proses meninggalkan kebodohan. HIjrah dari gelap menuju cahaya. Bukan tampilan fisik belaka, tapi cara berpikir. Cara berpikir yang lebih baik dan lebih bermanfaat. Sehingga, tidak semua yang lama itu harus ditinggalkan dan yang baru itu diterima mentah-mentah. Asal lebih baik dan bener itulah modern menurut saya. (Terinspirasi setelah baca berita ttg Jember Festival di Kompas)

Saturday, August 20, 2005

Tingkat 4

Besok senin dah mau masuk kuliah lagi. Hmm..udah tingkat 4 nih. Saat udah mulai muncul pertanyaan dari sekitar,"kapan lulus?","kapan TA ?".
Ngga kerasa waktu berlalu begitu cepat. Bentar lagi sudah harus menanggalkan status sbg mahasiswa. Mulai menatap kehidupan sebenarnya. Andai aku bisa berkata," Rakyat, aku datang, membawamu pergi dari kebodohan."

Friday, August 12, 2005

Permainan Sejarah

Pagi ini (13-08-05) saya membaca tulisannya Noam Chomsky (NC), judulnya Reshaping History.Noam Chomsky itu Ahli Bahasa dari Amrik sono. Saya seneng banget sama tulisannya. Mencerahkan banget lah! Bikin saya jadi tau kalo kita sebenarnya udah sering dikibulin dengan permainan kata-kata oleh media-media yang kita baca, dengar, dan lihat.

Tentang Reshaping history, NC nulis tentang sejarah yang dibentuk oleh "penguasanya" atau pihak yang mendominasi penulisan sejarah. Pembentukan sejarah ini biasanya dilakukan lewat media massa atau tulisan-tulisan yang mengarahkan opini pembaca sesuai dengan keinginannya. Fakta-fakta ditutupi dan hanya fakta tertentu yang dimunculkan. Bener-bener curang tapi cerdik cara bermainannya. Sehingga secara tidak sadar, kita atau pembaca menjadi berpikir sesuai dengan keinginan dari "penguasa" tadi.

Sebagai contoh, masalah palestina, coba kita lihat, kalo yang namanya proses perdamaian itu pasti ada peran Amerika Serikat (AS) disana. Padahal kalo pengen jujur sebenarnya AS n Israel pada awalnya menolak prakarsa perdamaian yang digagas Anwar Sadat pada 1971 n Yasser Arafat awal 80-an. Juga ngeluarin veto buat resolusi PBB yang kira-kira ngga nguntungin buat Israel. Seperti pada tahun 1967, AS memveto resolusi tentang pengakuan hak palestina terhadap daerah yang udah direbut ama Israel. Nah, baru saat daerah-daerah vital di palestina udah dikuasai ama Israel, Si Amrik nih sok-sokan menggagas perdamaian lewat Perjanjian Camp David sekitar tahun 1990-an. Parahnya lewat Camp david ini, duo israel n AS maksa secara halus Palestina buat ngikutin keinginan mereka.

Terus perjanjian Peta Jalan Damai, yang diberitakan sih bagus isinya. Ada pengakuan negara Palestina disamping negara Israel n penarikan mundur Israel dari Tepi Barat. Tapi kalo diliat, daerahnya Palestina sebenarnya jadi kecil banget. Jadi ibaratnya perjanjian Peta Jalan Damai itu pemaksaan secara halus Palestina untuk nyerahin daerahnya yang direbut Israel. Kayak maling maksa pemilik rumah buat ngakuin rumahnya jadi milik si Maling . Repotnya si maling ini didukung ama polisi. Gile bener emang !.

So, hati-hati kalo baca koran n ngliat TV. Jangan-jangan pikiran sedang dicuci otak secara tidak langsung. O ya! bukan hanya berita. hati-hati juga sama sinetron atau film2 di TV. Kalo ini bukan masalah Sejarah, tapi penetrasi budaya global yang intens. Ingat, ngga semua yang lo denger itu bener, Waspadalah !